Pradigma Sistem Penilaian Berkeadilan

By Erry 14 Nov 2018, 14:16:24 WIB Pendidikan
Pradigma Sistem Penilaian Berkeadilan

UPT.TIKP KALBAR - Evaluasi merupakan salah satu sarana penting untuk menilai keberhasilan proses pembelajaran melalui penilaian pencapaian kompetensi yang menjadi tujuan pembelajaran. Melalui evaluasi, guru sebagai pengelola kegiatan pembelajaran dapat mengetahui kemampuan yang dimiliki peserta didik, ketepatan metode pembelajaran yang digunakan dan keberhasilan siswa dalam mencapai kompetensi sebagai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Dengan informasi ini, guru dapat mengambil keputusan yang tepat, dan langkah apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dalam rangka peningkatan pencapaian kompetensi yang merupakan indikator penting dari mutu pendidikan. Informasi tersebut juga dapat memberikan motivasi kepada siswa untuk berprestasi lebih baik.

Menurut Fenton (1996), asesmen (assessment) atau pengukuran hasil belajar ialah pengumpulan informasi yang relevan, yang dapat dipertanggung jawabkan dalam rangka pengambilan keputusan. Sedangkan penilaian atau evaluasi (evaluation) ialah aplikasi suatu standar atau sistem pengambilan keputusan terhadap data assesmen, yaitu untuk menghasilkan keputusan (judgments) tentang besarnya dan kelayakan pembelajaran yang telah berlangsung. Asesmen hasil belajar siswa merupakan satu kesatuan atau bagian dari pembelajaran. Apalah artinya suatu proses pembelajaran apabila tidak diukur hasil pembelajarannya.

Sebagai orang yang pernah menjadi seorang pendidik, penulis selalu melakukan proses penilaian kepada siswa baik itu disebut asesmen atau evaluasi, tetapi yang jelas itu sangat berpengaruh pada proses belajar-mengajar dan penilaian kita. Keyakinan yang kita pahami mengenai penilaian adalah bahwa penilaian itu memberikan gradasi kepada siswa dengan simbol-simbol yang memiliki makna tertentu, yang disepakati dan bersifat permanen (jika berada di ijazah). Bagaimanapun, simbol-simbol itu, entah huruf ataupun angka, sangat berpengaruh pada siswa baik secara positif (membangkitkan motivasi). Sebenarnya, pengetahuan itu tidak dapat diukur atau gradasi secara absolut, karena yang namanya “proses mengetahui” itu senantiasa ongoing and on progress, maksudnya adalah seorang siswa mungkin detik ini tidak dapat menjawab satu soal, karena tidak memiliki ide apapun mengenai soal tersebut. Guru kemudian memberikan siswa itu grade “5”, yang dalam pandangan akademik yang menurut standar penilaian, skor angka ini “butuh perhatian khusus”, dalam istilah sekarang disebut dengan sebutan tidak tuntas, tetapi sayangnya, pemberian itu bersifat permanen. Satu hari, satu minggu atau satu bulan kemudian, setelah ujian atau pemberian grade itu, siswa tersebut akhirnya mengetahui jawaban soal-soal tadi; entah dari majalah, koran, televisi, radio, teman atau apapun, yang intinya “pengetahuan anak itu sudah bertambah, lebih baik dari sebelumnya”. Akan tetapi, akankah nilai 5 yang diberikan oleh guru atau sistem penilaian nasional dalam bentuk Ujian Akhir Nasional (UAN) dan telah tertulis di ijazah tadi bisa berubah? Sayang sekali, sistem penilain yang dianut dan berlaku di negara kita menutup kemungkinan-kemungkinan seperti ini.

Gradasi Hasil Ujian Nasional adalah bersifat final dan permanen. Selain bersifat final dan permanen, hasil ujian akhir nasional juga bersifat judgement sebagai realisasi bukti bahwa siswa itu sukses belajar atau gagal. Jika proses mengetahui adalah sebuah proses yang sifatnya dinamis, alamiah dan dapat berubah sewaktu-waktu, lalu mengapa proses penilaian senantiasa bersifat mutlak dan statis? Jika falsafah pendidikan kita menganut filsafat long life education, mengapa evaluasi pendidikan/ujian pendidikan tidak menganut falsafah yang sama? Berarti standar penilaian yang di-set selama ini adalah bukan sebagai barometer pengetahuan, tetapi sebagai sesuatu yang lain. Idealnya, jika falsafah pendidikan kita menganut falsafat belajar sepanjang hayat dan berkelanjutan, seharusnya, proses penilaian itu juga bersifat dinamis. Kita perlu mempertimbangkan proses penilaian dinamik dan mulai menumbuhkan keberanian untuk menolak prinsip absolute grading atau penilaian absolut yang banyak memakan siswa sebagai “korban” itu.

Satu cara yang bisa kita lakukan adalah dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bisa memperbaiki hasil skor penilaiannnya melalui ujian susulan yang berkelanjutan atau berkala. Sebagai sebuah konsep sistem penilaian yang bermartabat dan kerkeadilan, sistem ujian nasional susulan tidak sekedar diperuntukkan bagi siswa yang kebetulan tidak bisa mengikuti ujian karena sakit atau hal lain yang dibenarkan sesuai Prosedur Operasional Standar (POS) Ujian Nasional atau kepada siswa yang oleh karena permintaan lembaga atau perusahaan tertentu yang mensyaratkan grade tertentu pada bidang/mata pelajaran tertentu. Memang selama ini, kementerian pendidikan dan kebudayaan melalui BNSP telah memberikan kesempatan kepada lulusan SMA/SMK untuk mengikuti ujian susulan dengan syarat siswa mampu menunjukkan bukti fisik apakah berupa surat, brosur, atau formulir dari lembaga tertentu agar lulusan bersangkutan bisa mengikuti kegiatan ujian susulan atau memperbaiki nilai yang dianggap kurang bagi semua warga terjamin dan diakui. Penulis sangat setuju bahwa standar tetap digunakan sebagai target pencapain yang tinggi bagi semua lulusan, tetapi prinsip dinamika pengetahuan siswa juga jangan diabaikan. Seyogyanya sistem penilaian itu menganut falsafah dinamis tanpa batas. Kita selama ini mengenal sistem penilaian yang sekarang sangat diakui oleh lembaga pendidikan tinggi dan dunia usaha di seluruh dunia, yaitu Test of English as a Foreign Language (TOEFL) yang dalam aplikasinya menggunakan tiga macam test, yaitu International TOEFL test, Institutional TOEFL test, dan TOEFL Like-Test. Perbedaannya adalah bahwa soal International TOEFL baru dalam setiap pelaksanaan tes. Sedangkan soal institutional test dan TOEFL Like-test bersumber pada soal-soal beberapa tahun sebelumnya dari International TOEFL test. Masa berlaku tes TOEFL berbeda- beda. Untuk International TOEFL test, masa berlakunya adalah dua tahun yang dapat diterima di seluruh universitas di dunia. Juga dapat digunakan untuk melamar beasiswa ke luar negeri. Bagi Institutional TOEFL Test, masa berlakunya hanya enam bulan, biayanya jauh lebih rendah, tidak dapat digunakan untuk mendaftar ke universitas di luar negeri tetapi ada kalanya dapat dipakai untuk melamar beasiswa ke luar negeri. TOEFL Like-Test tidak dapat digunakan untuk mendaftar ke universitas luar negeri, hanya untuk memenuhi persyaratan universitas tertentu di Indonesia.

Melihat sistem penilaian TOELF itu, semestinya sistem penilaian pendidikan nasional kita juga bisa mengadopsinya. Seharusnya ada lembaga penilaian nasional pendidikan yang permanen yang bisa memberikan pelayanan penilaian kepada lulusan SMA/SMK yang berkeinginan untuk memperbaiki nilai yang didapatkan pada ujian akhir nasional. Pengetahuan merupakan hasil dari pengindraan, pengalaman dan sintesa antara keduanya. Bagaimanapun, itu semua terjadi secara simultan dan berkelanjutan, senantiasa berproses dan tak pernah berhenti. Penilaian yang adalah barometer pengetahuan seharusnya bersifat dinamis, karena nilai harus benar-benar merefleksikan pengetahuan yang berproses, bukan pengetahuan yang sementara namun berlaku untuk selamanya.(Jumadi*)

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment